Melewati Hari Dengan Penuh Makna

Rahasia terbesar dalam hidup adalah melewati hari ini dengan penuh makna tentang cinta, ilmu dan iman. Karena dengan cinta hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan iman hidup menjadi terarah.

MEMBACA SEBAGAI SUMBER KEMAJUAN BANGSA

Membaca adalah sebuah keharusan yang dilakoni oleh para pribadi yang menamakan dirinya seorang intelektual. Terlepas dari apa yang dibaca tentunya bacaan-bacaan itu disesuaikan dengan kapasitas pemikiran atau otak kita. Sebab, jika bacaan itu terlalu berat atau tidak kita mengerti, mungkin itu karena kita tidak memulainya dengan bacaan yang lebih ringan. Bahkan lebih bagusnya lagi bila bahan bacaan yang kita baca itu didiskusikan oleh orang lain. Saling adu argumentasi, retorika dalam mempertahankan pendapat yang jelas tentang buku yang dibaca. Sehingga, wawasan kita pun akan semakin bertambah dan luas, seiring dengan ‘panas’nya diskusi yang kita ikuti.

Jumat, 28 Mei 2010

रेनुंगन HARIAN

Kitab yang Melemahkan?
Bagi para motivator atau pengajar di seminar-seminar pengembangan diri, yang selalu menekankan pentingnya berpikir positif, bersikap positif, dan berperasaan positif, Kitab Pengkhotbah bisa jadi dianggap sebagai kitab yang “melemahkan”. Betapa tidak, salah satu kata yang paling kerap disebut dalam kitab ini adalah “sia-sia”. Judul-judul perikopnya juga seolah-olah menggambarkan kemuraman hidup. Contohnya: “Segala sesuatu sia-sia”, “Ketidakadilan dalam hidup”, “Kesia-siaan dalam hidup”, “Kesia-siaan kekayaan”, dan “Nasib semua orang sama”.

Ya, sekilas Pengkhotbah tampak sebagai kitab yang pesimistis. Seumpama warna, bukan biru, merah, atau kuning cerah, tetapi abu-abu gelap. Akan tetapi, benarkah demikian? Sebetulnya tidak juga. Sebab yang hendak diungkapkan Pengkhotbah adalah kefanaan hidup di dunia ini; bahwa dunia dan segala isinya akan berlalu. Penyadaran ini tentu sangat penting, sebab banyak orang yang tanpa sadar ingin hidup selama-lamanya di dunia ini; menumpuk kekayaan tanpa kenal batas, mengejar ilmu tanpa kenal henti.

Bukan berarti itu semua tidak penting. Akan tetapi, ada yang jauh lebih penting. Yakni “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (ayat 13). Kekayaan dan pengetahuan di dunia ini akan sia-sia belaka jika tidak diiringi oleh sikap takut akan Allah dan terlepas dari perintah-perintah-Nya. Artinya bagi kita, dalam kita bekerja mencari nafkah ataupun belajar menuntut ilmu, baiklah kita melakukannya dengan sikap hormat terhadap Allah. Hanya dengan demikian harta yang kita dapat dan pengetahuan yang kita peroleh akan berarti.

TANPA DISERTAI SIKAP HORMAT TERHADAP ALLAH KEKAYAAN DAN PENGETAHUAN AKAN SIA-SIA
Penulis: Ayub Yahya23

WWW. Renungan Harian. Net